Modul 3.1.a.8. Koneksi Antarmateri – Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

TUGAS KONEKSI ANTAR MATERI
MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

OLEH: HAIRI DEFI
SMP NEGERI 35 PADANG
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8
KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

Fasilitator               : Suhut Sudirman Simamora S.Pd
Pengajar Praktik    : Dra. Sri Indrawati Prihatin Ningsih, M.Si

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya:

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?
Menurut saya, kaitan dengan proses pembelajaran yang saya pelajari saat ini adalah mengajari anak tentang Pelajaran kecerdasan emosional atau Pendidikan berkarakter tidak kalah penting dengan mengajari anak bagaimana cara berhitung dengan baik. Karena nantinya yang akan membawa atau membentuk anak ini sukses nantinya dikemudian hari yaitu Pendidikan berkarakter itu sendiri. Pendidikan berkarakter ini juga nantinya yang akan berperan untuk membuat keputusan dikala anak nantinya mengalami dilema etika dalam kehidupannya.

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
Nilai-nilau atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan dikemudian harinya, mengandung nilai-nilai kebajikan dan tidak berat sebelah dan mementingkan banyak orang, agar memberikan dampak positif pada lingkungan  kita, yaitunya lingkungan yang aman, nyaman, tentram dan terkendali tanpa adanya perselisihan dan pertikaian yang terjadi.

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya harus bisa berkontribusi pada proses pembelajaran murid saya, saya pun harus mampu menuntun mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Diantaranya saya harus mampu menuntun mereka dalam pembelajaran pengambilan keputusan dengan cara mengatasi permasalahan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai kebajikan universal, dengan mempertimbangkan setiap pengambilan keputusan dengan berpihak pada murid dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi yang muncul dari keputusan yang diambil. Dalam pembelajaran bisa diwujudkan dalam pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional. Serta dalam penerapan pengambilan keputusan yang bijaksana bisa diterapkan restitusi dan analisis 9 langkah pengambilan keputusan berdasarkan nilai universal.

Menurut Anda, Apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berprilaku etis.
-George Wilhelm Friedrich Hegel-

Maksudnya adalah Pendidikan merupakan proses pembentukan untuk menjadikan seseorang yang berkarakter dan mempunyai sosial emosional yang cerdas dengan norma-norma yang baik sehingga kedepannya menjadi generasi yang berbudi pekerti luhur dalam menjalankan kehidupannya. Manusia yang berpendidikan adalah manusia yang mempunyai prilaku yang etis.

RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN ( KONEKSI ANTAR MATERI):

  1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
    Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
    Dalam Filosofi KHD ada Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
    Di dalam mengambil suatu keputusan:
    • Ing Ngarso sung tulodho, pemimpin dapat memberikan contoh yang baik kepada murid.
    • Ing Madyo Mangun Karso, pemimpin harus bisa bekerja sama dengan murid. Membantu murid untuk menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya sendiri.
    • Tut Wuri Handayani, pemimpin memberi kesempatan kepada murid untuk maju dan berkembang.

Jadi guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Pengaruh pandangan KHD terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah ketika guru menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah kita dihadapkan pada kasus dilema etika dan bujukan moral. Untuk itu kita perlu memiliki Pratap Triloka dengan cara menjadi sosok yang dapat dijadikan teladan bagi murid yaitu fasilitator, motivator, dan mampu membentuk karakter positif pada murid untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
    Sifat asli seseorang terkadang merupakan cerminan dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang tersebut, dan akan berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang diambil ketika seseorang tersebut akan mengambil keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness)  dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills),  akan mendukung dalam mewujudkan sikap  Tut wuri handayani. Seorang guru bisa melakukannya dengan cara memberikan dorongan secara moril dan materil ke semua warga sekolah. Dalam mengambil sebuah keputusan, nilai-nilai kebajikan yang tertanam di dalam diri seorang pendidik merupakan warna bagi setiap warga sekolah, terkhusus oleh mapa muridnya. Nilai kejujuran, integritas sebagai seorang pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan-kebijakan yang diambil dalam setiap keputusannya yang yang paling tepat.
  1. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.
    Materi coaching sangat berperan penting dalam pengambilan keputusan. Keterampilan coaching yang baik dengan alur TIRTA dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi dan dapat memecahkannyasecaracermat dansistematis. dan dengan berpegang pada konsep TIRTA, dan dikombinasikan dengan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan, maka proses coaching dalam menyelesaikan masalah akan mendapatkan keputusan yang maksimal.Materi pengambilan keputusan dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. 4 paradigma, yaitu:
    • Individu lawan masyarakat (individual vs community)
    • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
    • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
    • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Terdapat 3 prinsip yaitu ;

    • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking),
    • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking),
    • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

9 langkah untuk menguji keputusan dalam situasi dilema etika tersebut adalah:

    • Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
    • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
    • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
    • Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.
    • Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
    • Melakukan Prinsip Resolusi.
    • Investigasi Opsi Trilema.
    • Buat Keputusan.
    • Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
  1. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
    Sebagai seorang pendidik harus mampu memenuhi kebutuhan murid yang beragam, sehingga di dalam pembelajaran semua kebutuhan belajar murid terpenuhi dan pembelajaran akan menyenangkan. Di sinilah diperlukan pengambilan keputusan yang tepat untuk mengakomodasi kepentingan murid. Kompetensi sosial dan emosional dengan berpikir mindfulnes/kesadaran penuh akan dapat memberikan pembelajaran dalam mengambil keputusan dengan tepat dan bijaksana.
  1. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
    Nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik akan mempengaruhi pola pikirnya dalam mengambil keputusan terhadap suatu masalah. Oleh karena itu, dalam mengambil suatu keputusan harus mengaju pada nilai-nilai kebajikan dan mengutamakan rasa tanggung jawab, karena hal tersebut akan berpengaruh kepada karakter murid.
  1. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
    Pengambilan keputusan yang tepat dengan kasus yang melibatkan dilema etika, hanya dapat dilakukan dengan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan berpegang pada tiga hal tersebut dan melakukannya secara cermat dan penuh tanggung jawab maka keputusan yang diambil dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif,aman dan nyaman.
  1. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
    Tantangan-tantangan yang masih dirasakan di lingkungan  saya adalah saat saya dihadapkan pada permasalahan dilema etika atau dua kepentingan yang menurut saya benar. Di sini saya menjadi bingung dalam memutuskannya.  terkadang saya berpikir nanti keputusan saya tidak bisa memuaskan semua pihak dan bahkan mendapat kritik dari orang lain.
  1. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
    Pengambilan keputusan yang kita ambil ini sangat berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Apabila pengambilan keputusan kita itu positif, maka akan berdampak baik dalam memerdekakan murid, akan tetapi apabila pengambilan keputusan kita itu salah maka akan berdampak negatif dalam memerdekakan murid. Yang kita lakukan dalam memutuskan memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda adalah dengan melihat karakteristik, potensi dan kebutuhan murid kita. setelah itu baru kita putuskan untuk merancang pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan murid kita yang berbeda-beda.
  1. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
    Ketika seorang pemimpin pembelajaran mengambil suatu keputusan, maka akan sangat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Pengambilan keputusan yang tepat dan berpihak pada murid akan menjadikan murid dapat belajar dengan nyaman, merdeka, kreatif, inovatif, mandiri dan akhirnya mempengaruhi kehidupan atau masa depannya.
  1. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
    Sebagai seorang pemimpin pembelajaran guru harus mampu menerapkan Prinsip pratap triloka dari Ki hadjar Dewantara, yaitu Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Sebagai penuntun, guru juga harus memiliki dasar pengambilan keputusan yaitu berupa nilai yang berpihak pada siswa dengan berpedoman pada nilai-nilai moral, religiusitas dan nilai-nilai universal serta bertanggung jawab. Nilai seorang guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, kreatif dan berpihak pada murid juga menjadi pedoman pengambilan keputusan.
    Dalam membuat keputusan dibutuhkan juga menghargai visi, misi sekolah, budaya dan nilai sebagai pengambilan keputusan di sekolah sebagai pemimpin pembelajaran. Guru juga harus mandiri belajar murid dengan mengarahkan murid pada proses pembelajaran dan pengembangan potensi siswa melalui proses pembinaan sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat dan hal ini akan memudahkan siswa dalam menentukan masa kelak. Kompetensi sosial emosional yang matang dari seorang guru akan mendukungnya dalam pengambilan keputusan yang tepat. Kompetensi ini meliputi kesadaran diri atau self awareness, Pengelolaan diri (self management), Kesadaran sosial atau kesadaran sosial, dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skill). Sebagai pemimpin pembelajaran maka ketika kita berada dalam situasi dilema etika maupun moral, kita menggunakan prinsip kesadaran penuh atau mindfullness sehingga kita akan sadar dengan berbagai opsi dan konsekuensi yang ada, keputusan yang dihasilkan pun dapat dipermudah dan bermanfaat.
    Selain itu, pembelajaran di kelas dengan mengambil strategi untuk membedakan yang sesuai kebutuhan belajar murid akan mampu mengarahkan siswa pada proses pengembangan potensi mereka dan juga melalui proses pembinaan sehingga mereka dapat mencapai kemerdekaan belajarnya. Dalam pengambilan keputusan guru harus menerapkan prinsip atau dasar pengambilan keputusan yang tepat yaitu menggunakan empat paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
  1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
    Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ketika saya mengambil suatu keputusan saya hanya berpikir benar-salah, untung-rugi saja. Ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya mengambil sesuai pemikiran saya saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Karena selama ini saya cukup menyelesaikan semua kasus dengan musyawarah lalu mufakat dan memiliki resiko paling kecil.
  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
    Sebelum mempelajari modul 3.1, saya banyak menjumpai kasus dilema etika dan bujukan moral. Saya langsung memutuskan semua kasus tanpa melakukan pengujian terlebih dahulu. Semua keputusan hanya didasarkan pada intuisi saya, nilai-nilai saya, dan pertimbangan saya terhadap orang lain. Jadi saat mempelajari modul 3.1, saya merasa bahwa pemikiran berbasis rasa peduli atau care based thinking adalah prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan dilema etika. Dalam kasus dilema etika bahkan sering berakibat lingkungan kurang kondusif karena saya mengambil keputusan tanpa pengujian, kadang saya juga menggunakan uji panutan atau idola. Prosedur pengambilan keputusan saya tidak sama persis dengan konsep yang saya pelajari dalam modul, tetapi ada kesamaan. Ini berarti menganalisis unsur kebenaran lawan salah dan uji panutan dan idola.
  1. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
    Setelah saya mempelajari modul 3.1, saya menjadi lebih mantap, yakin dan percaya diri dalam mengambil keputusan terkait kasus dilema etika, terutama sebagai pemimpin pembelajaran. Setelah melalui proses analisa paradigma dan prinsip pengambilan keputusan serta pengujian keputusan melalui sembilan langkah ini, saya merasa lebih percaya diri karena saya tahu keputusan saya benar dan efektif. Sehingga dengan melakukan tahapan yang tepat akan meminimalisir dampak negatif terhadap pengambilan keputusan yang telah saya ambil karena telah melalui tahapan yang seharusnya. Keputusan yang saya ambil juga saya usahakan berpihak pada murid. Segala keputusan yang saya ambil kini lebih berdampak positif terhadap lingkungan sehingga lingkungan nyaman, aman dan kondusif. Melalui 9 langkah pengujian dalam pengambilan keputusan, saya merasa semua Langkah tertata dan terbantu dalam setiap penyelesaian kasus dilema etika yang saya hadapi.
  1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
    Jika ditanya seberapa penting, maka saya jawab sangat penting. Hal ini dikarenakan modul 3.1 ini snagat membantu saya dalam pengambilan keputusan pada kasus dilema etika. Secara individu sebagai guru ataupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah, kini saya dapat membuat keputusan yang benar dan efektif serta menghindari pengambilan keputusan yang ceroboh atau merugikan orang banyak. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan, saya merasa bahwa banyak hal dan keputusan yang saya buat tidak didasarkan pada cara berpikir yang jelas dan terstruktur. Akan tetapi sekarang saya lebih terbantu dalam membuat keputusan yang tepat. Sekarang saya lebih percaya diri memutuskan segala kasus baik dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan sembilan langkah pengambilan keputusan. Saya semakin percaya diri  dalam membuat keputusan yang tepat. Saya akan segera mengimplementasikan keterampilan membuat keputusan sesuai modul 3.1 dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh akan membutuhkan lebih banyak latihan dan pembelajaran.