Modul 2.3.a.8. Koneksi Antar Materi – Coaching Untuk Supervisi Akademik

TUGAS KONEKSI ANTAR MATERI
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

OLEH: HAIRI DEFI
SMP NEGERI 35 PADANG
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8
KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

Fasilitator               : Suhut Sudirman Simamora S.Pd
Pengajar Praktik    : Dra. Sri Indrawati Prihatin Ningsih, M.Si

Pada fase ini Anda diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Paket Modul 2: Pembelajaran yang berpihak pada murid dan membuat sebuah koneksi antar materi belajar yang sudah Anda lakukan. berikut adalah instruksinya:

  1. Buatlah sebuah kesimpulan dan refleksiyang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya.
  2. Bacalah pertanyaan-pertanyaan ini untuk membantu Anda membuat kaitan tersebut:
    • Bagaimana peran Anda sebagai seorang coachdi sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?
    • Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran?

SETELAH MEMPELAJARI MODUL 2.3 SAYA MEMAHAMI BAHWA…
Sebagai guru penggerak harus mampu menjalankan peran guru penggerak yaitu menjadi coach bagi guru yang lain, agar mampu menuntun guru yang lain untuk menemukan sendiri solusi atas masalah yang dihadpinya melalui kegiatan suoervisi akademik menggunakan konsep coaching

Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik
Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang.

AGAR MENJADI COACH YANG BAIK, SAYA HARUS MEMILIKI….

Paradigma Berpikir Coaching

  1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan
  2. Bersikap terbuka dan ingin tahu
  3. Memiliki kesadaran diri yang kuat
  4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Prinsip Coaching

  1. Kemitraan
  2. Proses Kreatif
  3. Memaksimalkan Potensi

Kompetensi inti coaching :

  1. Kehadiran Penuh/Presence
  2. Mendengarkan Aktif
  3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot

AGAR PROSES COACHING BISA BERJALAN DENGAN BAIK SAYA HARUS MENERAPKAN
Mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:
RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:
R (Receive/Terima),
yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.
A (Appreciate/Apresiasi),
yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.
S (Summarize/Merangkum),
saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuaiSetelah merangkum apa yang disampaikan coachee bagian terakhir adalah
A (Ask/Tanya)
mengajukan pertanyaan berbobot.

Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?
Dalam relasi guru-guru (rekan sejawat) maka saya harus terus berupaya menjaga konsistensi pelaksanaan percakapan-percakapan dengan mereka (para guru/rekan sejawat) dengan pola atau model percakapan yang berbasis coaching sehingga nanti pada akhirnya kami semua (para guru) akan tersadar dan secara instrinsik kami memiliki motivasi untuk terus menumbuhkembangkan dan terus meningkatkan kwalitas pembelajaran berdiferensiasi dan juga dibarengi terus dalam melakukan penguatan dan peningkatan kualitas implementasi pembelajaran/kopetensi sosial emosional dalam kegiatan proses belajar mengajar didalam kelas. Bahkan saya juga ingin para guru pada akhirnya juga akan mau dan mampu untuk menerapkan pola percakapan coaching kepada seluruh murid dan warga sekolah

Bagaimana keterkaiatan keterampilan coaching dengan pengembangan kopetensi sebagai pemimpin pembelajaran?
Guru penggerak sesuai dengan nilai yang harus diembannya maka harus mampu berperan sebagai pemimpin pembelajaran. yakni pemimpin pembelajaran yang siap mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid. lalu bagaimana semua ini bisa terselenggara dengan baik dan maksimal? maka tentu, dibutuhkan guru yang memiliki daya handayani/memberdayakan. sebagaimana bahwa kata kunci dari coaching itu sendiri adalah kemitraan yang memberdayakan segala potensi dan kodrat yang ada, maka seorang guru mutlak membutuhkan keterampilan coaching, sehingga di (guru) mampu meng-AMONG (dengan jiwa ing ngarso sungtuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani) atau menuntun murid menuju kodrat terbaiknya dalam meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai pribadi maupun sekaligus sebagai anggota masyarakat

Refleksi Pembelajaran Modul 2.3
Pada Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik selaras dengan salah satu Peran Guru Penggerak. Menjadi coach bagi guru lain. Setelah mempelajari coaching akan melakukan atau mengimplementasikan di sekolah. Dalam menjalankan peran menjadi coach bagi guru lain, terutama yang terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran bagi murid di sekolah, Guru harus berdaya dalam menemani dan menuntun rekan sejawatnya itu untuk menelaah proses belajar mereka sendiri. Belajar keterampilan coaching, memberdayakan diri melalui refleksi atas hasil pengalaman praktik-praktik profesional sendiri, harus dapat mengambil pembelajaran, memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk mengakses keterampilan metakognitif ketika melihat dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri terkait belajar, pencapaian tujuan, dan pemecahan masalah. Sebagai coach harus lincah berpindah-pindah dari pemikiran pengembangan rekan sejawat pada level individu dan level anggota komunitas pendidik di sekolah.
Setelah saya belajar materi coaching ini, saya sudah mencoba melakukan praktek sebagai coach, saya merasa tertantang bagaimana bisa menggali pengalaman dalam mengatasi masalah dan membuat pertanyaan berbobot yang dapat membangkitkan pengetahuan coachee saya tanpa berusaha memberikan arahan. Saya juga belajar menahan diri untuk tidak menjudgment, mengasumsikan serta mengasosiasikan ketika coachee berpendapat. Untuk permasalahan ini saya bertanya pada diri saya sendiri, apa yang bisa saya lakukan agar emosi saya tetap terkontrol. Menurut saya disini lah keterampilan sosial emosional yang saya dapat di modul 2.2 diuji pemahamannya. Saya harus mampu mengolah emosi, keterampilan kesadaran diri, pengelolaan diri dan keterampilan berelasi perlu diterapkan ketika saya menjadi coach di kelas.
Selama pembelajaran, saya sudah merasa mampu dalam menahan diri saya untuk tidak menjudgment ketika siswa saya berpendapat. Saya berikan mereka kebebasan berpendapat ketika saya mengajukan pertanyaan, tentu dengan pengaturan kesempatan berpendapat agar tidak mengganggu ketertiban di kelas. Saya merasa berhasil dalam menerapkan keterampilan sosial emosional. Saya juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi rekan sejawat saya ketika mereka berkeluh kesah yang sedikit banyak dapat melepaskan beban mereka. Dari obrolan santai ini terlahir rencana bagaimana rekan berusaha mengatasi masalah yang dihadapinya, dan tentu saja saya tetap menerapkan 3 keterampilan coaching yang sudah saya pelajari.

Keterkaitan coaching dengan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran social dan emosi
Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.
Kegiatan untuk melatih menghadirkan presence yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan STOP dan Mindful Listening yang telah kita pelajari pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional yang lalu Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat menghadirkan presence. Untuk itu temukan cara yang paling efektif untuk Bapak/Ibu agar bisa terus melatih diri dan menerapkannya sebelum dan selama melakukan percakapan coaching.
Pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan dan kebahagiaan.

Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran.
Seorang guru pengerak harus mampu berperan sebagai pemimpin pembelajaran, pemimpin pembelajaran yang siap mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid. Semua akan bisa terlaksana dengan baik bila guru memiliki daya /memberdayakan. Memberdayakan segala potensi dan kondrat yang ada, maka seorang gurj mutlak membutuhkan keterampilan coaching ini sehingga guru mampu meng-Among atau menuntun murid menuju kodrat terbaiknya dalam meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai pribadi maupun sekaligus sebagai anggota masyarakat.
Selain itu, bahwa salah satu peran guru penggerak adalah sebagai coach bagi guru lain. Sesuai dengan peran tersebut seorang guru penggerak harus mampu menjadi mitra bagi guru lainnya dalam menyelesaikan masalah. Guru penggerak juga mempunyai peran sebagai pemimpin pembelajaran, dimana seorang pemimpin tentu harus mempunyai kemampuan untuk melakukan supervisi akademik ketika di perlukan. Hubungan nya dengan kedua peran tersebut, ketika melakukan nya tentu seorang guru penggerak harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai Pembelajaran sosial emosional. Guru penggerak harus memiliki kesadaran diri serta kesadaran sosial yang baik ketika melakukan coaching. Harus mampu menahan diri dan keinginan untuk berkomentar yang menjudgment sang coachee. Intinya seorang Coach itu harus mampu menjadi pendengar setia ketika sang coachee sedang menyampaikan pemahamannya. Modul ini sangatlah menunjang untuk pelaksanaan Implementasi Kurikulum Merdeka.