Modul 2.2.a.3 – Mulai Dari Diri Sendiri – Pembelajaran Sosial dan Emosional

TUGAS MULAI DARI DIRI SENDIRI
MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

OLEH: HAIRI DEFI
SMP NEGERI 35 PADANG
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 8
KOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

Fasilitator               : Suhut Sudirman Simamora S.Pd
Pengajar Praktik    : Dra. Sri Indrawati Prihatin Ningsih, M.Si

Dalam fase pertama pembelajaran. Calon Guru Penggerak (CGP) diminta refleksikan pengalaman  berkaitan dengan kompetensi sosial dan emosional, baik diri sendiri maupun murid Anda. Bacalah setiap pertanyaan ini dengan seksama dan refleksikan dengan  keterbukaan dan kedalaman. Selamat berefleksi!

Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional
Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

  1. Apa kejadiannya, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apa yang membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya?
    Jawaban: Pada tahun 2006 dimana saat itu saya baru saja menjadi seorang guru dengan latar pendidikan belum S-1, dan saat itu saya pertama kali diberi kesempatan untuk menjadi Nara Sumber Diklat tentang Pembuatan Website Bagi Guru TIK Tingkat SMP Seluruh kota, yang secara kesuluran peserta tersebut adalah Guru TIK yang berlatar belakang pendidikan sarjana komputer dan sudah mempunyai pengalaman-pengalaman di bidang teknologi. Tentu saya merasa kurang percaya diri dan merasa minder dalam menyampaikan materi sehingga ada sedikit ketidaksempurnaan dalam penyampaian materi. Pengalaman yang luar biasa, membuat daya kreatifitas dan inovatif sebagai guru mulai merespon diri saya sendiri, maka saya memilih peristiwa ini untuk refleksi kompetensi sosial emosional.
  2. Bagaimana Anda menghadapi krisis tersebut (coping)? Bagaimana Anda dapat bangkit kembali (recovery) dan bertumbuh (growth) dari krisis tersebut?
    Jawaban: Sebagai seorang nara sumber diklat tentunya tidak terlepas dari hambatan, yang saya lakukan adalah mengelola emosi berusaha untuk menghayati peran saya sebagai nara sumber dan mencoba mulai mengeksplor apa yang saya miliki untuk benar-benar memberikan yang terbaik dalam proses menyampaikan materi kepada peserta diklat. Sehingga saya bisa merespon akan kebutuhan peserta agar ilmu yang saya miliki bermanfaat untuk orang lain demi kemajuan pendidikan. Saya terus responsive masukan-masukan dari orang lain yang sifatnya positif dan membangun dan harus memiliki wawasan yang luas dan cukup dengan cara belajar kepada orang lain yang memiliki wawasan dan pengalaman lebih. Menambah wawasan pengetahuan serta menyiapkan mental.
  3. Gambarkan diri Anda setelah melewati krisis tersebut. – Apa hal terpenting yang telah Anda pelajari dari krisis tersebut? – Bagaimana dampak pengelolaan krisis tersebut terhadap diri Anda dalam menjalankan peran sebagai pendidik?
    Jawaban: Di awal tentu saja banyak kesulitan yang saya hadapi terutamnya pada saat saya dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari peserta. Berhadapan dengan hal tersebut saya tetap tenang dan konsisten pada materi yang saya sampaikan sehingga seluruh rangkaian dapat berjalan dengan sempurna. Suatu peristiwa yang sangat memberikan pengalaman belajar pada diri saya jika harus berhadapan dengan orang lain yang memiliki wawasan lebih baik. Peristiwa ini sangat berdampak pada tugas saya sebagai pendidik, karena dari peristiwa ini saya menjadi “sadar” untuk menjadi guru yang lebih profesional, bahkan selalu tergerak membuat daya inovatif. Menemukan insight yang bermanfaat bagi diri sendiri. Dampak yang paling signifikan adalah menjadi inspirasi bagi orang lain yang mendengarkan apa yang saya sampaikan kemudian mereka dapat bergerak kearah yang lebih baik.
  4. Sebagai pendidik, Anda tentu pernah bertemu murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Setujukah Anda bahwa faktor-faktor tersebut membantu ia menjalani proses pembelajaran dengan lebih optimal di sekolah? Jelaskan jawaban Anda dengan bukti atau contoh yang mendukung.
    Jawaban: Sangat setuju. Murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain, akan sangat mudah menjadi manajer pada dirinya dalam menyiapkan masa depan. hal ini biasanya akan dimulai dari kegiatan pembelajaran di kelas sampai pada kegiatan di masyarakat. Salah satu siswa saya yang sudah tamat, namanya Afrizal, ia memiliki kemampuan personal yang baik, hubungan dengan temanya bagus, terhadap guru menunjukkan pribadi yang sopan, mampu berkomunikasi baik dengan temannya. Karena kemampuannya teman-teman ekskul mempercayakan kepemimpinan ekskul kepada Afrizal, setelah dia menamatkan pendidikannya di tingkat SMP dan sampai di tingkat SMA dia di percaya lagi sama temannya menjadi pemimpin ekskul dan menjadi pemimpin ekskul yang disayangi oleh guru dan kepala sekolah sehingga ekskul yang di pimpinnya sering mendapat juara di tingkat kota maupun provinsi, dan sampai tamat SMA dia selalu ingat dengan akan alamaternya dan berusaha menularkan ilmunya kepada adik-adiknya di di SMA dan SMPnya
  5. Dari kedua refleksi di atas, apa yang dapat Bapak/Ibu simpulkan tentang hubungan antara kompetensi sosial dan emosional dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis Anda dan pembelajaran murid Anda?
    Jawaban: Kompetensi sosial dan emosional memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis yaitu kemampuan sosial dan emosional yang baik akan membawa pada keberhasilan pengelolaan krisis. Pada modul pembelajaran sosial emosional ini merupakan proses pengembangan diri mulai dari ketrampilan, sikap, dan nilai-nilai untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional. Kompetensi sosial dan emosional harus saya miliki dalam melaksanakan tugas sebagai seorang guru, karena keyakinan dari diri saya untuk selalu memberikan yang terbaik untuk semua murid dan melakukan pembelajaran berpihak pada murid agar mereka belajar dengan aman dan nyaman.

Harapan dan Ekspektasi

  1. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi diri sendiri ?
    Jawaban: Harapan dan ekspetasi saya adalah dapat mengontrol emosional, baik emosi positif maupun emosi negatif, agar saya dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain dan diri saya sendiri. Saya berharap pada pembelajaran modul pembelajaran sosial dan emosional ini dapat menemukan cara efektif untuk bisa mengontrol emosi positif dan negatif. Sehingga saya bisa di terima di lingkungan tempat dimana saya bekerja, saya dapat membuat komunitas praktisi, komunitas belajar, dan dapat bersama-sama memajukan pendidikan
  2. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi murid-murid Anda ?
    Jawaban: Harapan dan ekspetasi bagi murid- murid saya adalah menanamkan karakter bagi murid agar mereka lebih nyaman untuk belajar. membuat pembelajaran yang berpihak pada murid, bisa menjadi tempat untuk bertanya, berkonsultasi mengenai permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, Murid yang memiliki pemikiran kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif serta menjadi Profil Pelajar Pancasila